Gibran Rakabuming Raka – Pojok Baca di Tempat Jajan

DUTA Baca Indonesia, Najwa Shihab, bersama Gibran Rakabuming Raka, 29, putra Presiden Joko Widodo, meluncurkan pojok baca di Markobar di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (20/5).

Ini merupakan pojok baca pertama yang hadir di tempat jajan dan kongko-kongko anak muda. Cara yang tidak biasa ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca di kota itu.

Acara peluncuran di warung martabak milik Gibran itu berlangsung sederhana dan dalam suasana sangat santai. Tidak ada undangan yang disebar secara khusus untuk acara tersebut. Namun, tetap saja banyak yang hadir. Ada yang datang secara khusus, ada pula yang awalnya datang hanya untuk menikmati martabak, tetapi akhirnya kepincut untuk menyaksikan acara peluncuran pojok baca.

Najwa menuturkan persiapan peluncuran pojok baca di Markobar tidak membutuhkan waktu lama. Ketika gagasan itu dikemukakan, Gibran langsung menyambutnya dengan tangan terbuka. “Ternyata sangat gampang dan menyenangkan bekerja dengan Mas Gibran,” seloroh Najwa yang disambut senyum oleh Gibran.

Gibran memiliki alasan mengapa dia sangat antusias menyambut kehadiran pojok baca di Markobar. Ia mengaku sejak duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar telah gemar membaca. Buku favoritnya kala itu ialah Detektif Conan. “Kalau dulu harganya Rp3.750, enggak tahu kalau sekarang,” katanya.

Kebiasaan membaca buku, menurut Gibran, telah ditekankan orangtuanya sejak ia kecil. Namun, ayahnya yang juga Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dan ibunya, Iriana, tidak pernah mendikte buku apa yang harus dibaca. “Orangtua memberikan kebebasan untuk membaca apa saja, ada novel, komik, dan majalah,” kata Gibran.

Gibran juga ingin kegemaran membaca buku menular secara luas ke masyarakat, terutama anak muda. Dengan alasan itulah dia ingin 26 cabang Markobar di seluruh Indonesia memiliki pojok baca.

Baca sepuasnya

Pengunjung Markobar bisa membaca buku yang disediakan sepuasnya. Namun, bukunya tidak boleh dibawa pulang. Selain itu, kotak khusus bagi siapa saja yang mau menyumbangkan buku disediakan dan akan diteruskan ke berbagai taman bacaan masyarakat di Kota Surakarta.

Najwa mendukung keinginan itu. Menurutnya, menggairahkan minat baca bisa dilakukan dengan berbagai cara. Gerakan paling sederhana ialah melalui pojok baca.

Najwa yang ditunjuk Perpustakaan Nasional sebagai Duta Baca Indonesia pada 2016 awalnya mengaku sempat grogi.

Berdasarkan hasil survei Central Connecticut State University Amerika Serikat yang dirilis pada 2016 bertajuk World’s Literate Nation Ranked menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara di dunia. Pencapaian tersebut terpaut sangat jauh dari negara-negara Skandinavia, seperti Finlandia di posisi pertama sebagai negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia, disusul Norwegia di urutan kedua, Islandia peringkat ketiga, Swedia di tempat kelima. “Untung saja masih ada Botswana sehingga kita tidak jadi yang paling bawah,” katanya. (H-5)

ArtikelAsli

Tinggalkan komentar